Proses Menjadi dalam Mengenal Diri

    Proses menjadi adalah semua aksi untuk mewujudkan sebuah atau lebih dari visi dan misi, akibatnya perombakan dan penghancuran dari status quo. Disitu ada pergumulan, perusakan, perombakan, penolakan serta standarisasi segala hal. Standarisasi itu berdasar pada gagasan dan persepsi seseorang. Gagasan dan persepsi itu berbeda-beda karena dilandasi oleh BATIN orang bersangkutan, dan di situ ada ego.
    Simaklah secara lengkap pada topik-topik berikut ini!

    Proses Menjadi
    1 Februari

    Menjadi Adalah Pergulatan

    Hidup yang kita kenal, kehidupan sehari-hari kita, adalah suatu proses menjadi. Saya miskin, dan saya bertindak dengan suatu tujuan dalam pandangan saya, yakni menjadi kaya. Saya jelek dan ingin menjadi cantik. Oleh karena itu hidup saya adalah proses untuk menjadi sesuatu.

    Keinginan untuk ada adalah keinginan untuk menjadi, pada tingkat kesadaran yang berbeda-beda, dalam keadaan yang berbeda-beda, yang di situ terdapat tantangan, tanggapan, penamaan, dan pencatatan. Nah, menjadi adalah pergulatan, menjadi adalah kesakitan, bukan?

    Itu adalah perjuangan terus-menerus: saya sekarang begini, dan saya ingin menjadi begitu.

    Proses Menjadi
    2 Februari

    Semua Proses Menjadi Adalah Perusakan

    Batin mempunyai suatu gagasan, yang mungkin menyenangkan, dan ia ingin menjadi seperti gagasan itu, yang adalah proyeksi keinginan Anda.

    Ada keadaan begini, yang tidak Anda sukai, dan Anda ingin menjadi begitu, yang Anda sukai. Yang ideal itu diproyeksikan oleh diri; apa yang berlawanan adalah perluasan dari apa yang ada; itu sama sekali bukan yang berlawanan, melainkan kelanjutan dari apa yang ada, mungkin sedikit diubah. Proyeksi itu dikehendaki oleh diri, dan konflik adalah perjuangan menuju proyeksi itu. ...

    Anda berjuang untuk menjadi sesuatu, dan sesuatu itu adalah bagian dari diri Anda. Yang ideal itu adalah proyeksi Anda sendiri.

    Lihatlah betapa batin telah menipu dirinya sendiri. Anda berjuang mengejar kata-kata, mengejar proyeksi Anda sendiri, bayangan Anda sendiri. Anda penuh kekerasan, dan Anda berjuang untuk tidak lagi keras, yakni yang ideal; tetapi yang ideal itu adalah proyeksi apa yang ada, hanya saja dengan nama berbeda.

    Bila Anda menyadari tipuan yang Anda lakukan terhadap diri Anda sendiri, maka yang palsu terlihat sebagai yang palsu.

    Perjuangan menuju suatu ilusi adalah faktor yang merusak. Semua konflik, semua proses menjadi adalah perusakan. Bila ada kesadaran akan tipuan yang dilakukan batin terhadap dirinya sendiri, maka yang ada hanyalah apa adanya.

    Bila batin terbebas dari semua proses menjadi, dari semua yang ideal, dari semua pembandingan dan pengutukan, bila semua struktur dirinya runtuh, maka apa adanya mengalami transformasi sepenuhnya.

    Selama masih ada pemberian nama terhadap apa adanya, maka ada hubungan antara batin dengan apa adanya; tetapi bila proses penamaan ini—yang adalah ingatan, yakni struktur batin itu sendiri—tidak ada, maka apa adanya tidak ada lagi. Hanya di dalam transformasi ini terdapat integrasi.

    Proses Menjadi
    3 Februari

    Dapatkah Batin yang Mentah Menjadi Peka?

    Simaklah pertanyaan itu, simaklah makna di balik kata-katanya.

    Dapatkah batin yang mentah menjadi peka?

    Jika saya berkata batin saya mentah, dan saya mencoba menjadi peka, maka upaya untuk menjadi peka itu sendiri adalah kementahan. Harap lihat ini. Jangan heran, tetapi pandanglah.

    Sedangkan, jika saya melihat bahwa saya mentah tanpa ingin berubah, tanpa mencoba menjadi peka, jika saya mulai memahami apa arti kementahan, mengamatinya dalam hidup saya dari hari ke hari—cara makan saya yang rakus, cara saya memperlakukan orang dengan kasar, kebanggaan, keangkuhan, kekasaran tingkah laku dan pikiran-pikiran saya—maka pengamatan itu sendiri mentransformasikan apa adanya.

    Demikian pula, jika saya bodoh dan saya berkata saya harus menjadi cerdas, maka upaya untuk menjadi cerdas itu hanyalah wujud kebodohan yang lebih besar; oleh karena yang penting adalah memahami kebodohan.

    Betapa banyak pun saya mencoba menjadi cerdas, kebodohan saya tetap ada. Saya mungkin mencapai polesan di permukaan dengan belajar, saya mungkin mampu mengutip dari buku-buku, membeo ucapan para penulis besar, tetapi pada dasarnya saya tetap bodoh.

    Tetapi jika saya melihat dan memahami kebodohan ketika ia menampilkan diri dalam kehidupan saya sehari-hari—bagaimana saya memperlakukan pelayan saya, bagaimana saya memandang tetangga saya, orang miskin, orang kaya, pegawai rendah—maka kesadaran itu sendiri menghasilkan runtuhnya kebodohan.

    Proses Menjadi
    4 Februari

    Kesempatan untuk Memperluas-diri

    Struktur hirarkis memberikan kesempatan baik untuk memperluas-diri. Anda mungkin menginginkan persaudaraan, tetapi bagaimana mungkin ada persaudaraan jika Anda mengejar pembedaan spiritual?

    Anda mungkin tersenyum terhadap gelar-gelar duniawi; tetapi ketika Anda mengakui Sang Master, juruselamat, guru di bidang kerohanian, tidakkah Anda masih membawa sikap duniawi itu?

    Apakah mungkin ada pembagian dan gelar-gelar hirarkis dalam pertumbuhan spiritual, dalam pemahaman kebenaran, dalam merealisasikan Tuhan?

    Cinta tidak mengakui pembagian. Entah Anda mencinta atau tidak mencinta; tetapi jangan buat ketiadaan cinta menjadi proses bertele-tele yang tujuannya adalah cinta. Bila Anda tahu Anda tidak mencinta, bila Anda sadar tanpa memilih akan fakta itu, maka ada kemungkinan terjadi transformasi; tetapi memupuk dengan rajin pembedaan antara Guru dan murid, antara orang yang telah sampai dan orang yang belum sampai, antara juru selamat dan pendosa, berarti mengingkari cinta. Si pengeksploitir, yang pada gilirannya dieksploitir, mendapatkan padang perburuan yang menyenangkan dalam kegelapan dan ilusi ini.

    ... Pemisahan antara Tuhan atau realitas dengan Anda dibuat oleh Anda sendiri, oleh batin yang melekat kepada apa yang diketahui, kepada kepastian, kepada rasa aman. Keterpisahan ini tidak bisa dijembatani; tiada ritual, tiada latihan, tiada kurban yang dapat menyeberangkan Anda; tiada juru selamat, tiada Master, tiada guru yang dapat menuntun Anda kepada yang nyata atau melenyapkan keterpisahan ini. Pembagian ini bukan antara yang nyata dengan Anda; itu ada di dalam diri Anda sendiri.

    ... Yang penting adalah memahami konflik keinginan yang makin meningkat; dan pemahaman ini hanya datang melalui pengenalan-diri dan kesadaran terus-menerus akan gerak-gerik diri.

    Proses Menjadi
    5 Februari

    Di Luar Semua Pengalaman

    Untuk memahami diri dibutuhkan kecerdasan yang kuat, keawasan, kewaspadaan yang kuat, mengamati tanpa henti, sehingga diri itu tidak lolos.

    Saya, yang amat bersungguh-sungguh, ingin melenyapkan diri. Bila saya mengatakan itu, saya tahu adalah mungkin untuk melenyapkan diri. Harap sabar. Pada saat saya berkata, “Saya ingin melenyapkan ini,” dan di dalam proses yang saya ikuti untuk melenyapkannya terdapat pengalaman tentang diri, dan dengan demikian diri itu diperkuat.

    Jadi, bagaimana mungkin bagi diri untuk tidak mengalami? Kita dapat melihat bahwa penciptaan sama sekali bukan pengalaman tentang diri. Penciptaan ada bila diri tidak ada, oleh karena penciptaan bukanlah intelektual, bukan berasal dari pikiran, bukan diproyeksikan oleh diri, merupakan sesuatu yang berada di luar semua pengalaman seperti yang kita kenal.

    Mungkinkah bagi batin untuk sungguh hening, berada dalam keadaan tak mengenal, yang berarti tak mengalami, berada dalam keadaan yang di situ penciptaan dapat berlangsung—yang berarti, bila diri tidak ada, bila diri absen? Apakah pertanyaan saya ini jelas, atau tidak?

    ... Masalahnya adalah ini, bukan? Setiap gerak dari batin, positif atau negatif, adalah pengalaman yang sesungguhnya memperkuat sang “aku”. Mungkinkah bagi batin untuk tak mengenal? Itu hanya dapat terjadi bila terdapat keheningan sempurna, tetapi bukan keheningan yang merupakan pengalaman dari diri dan yang dengan demikian memperkuat diri.

    Proses Menjadi
    6 Februari

    Apakah Diri Itu?

    Mengejar kekuasaan, kedudukan, otoritas, ambisi dan sebagainya adalah bentuk-bentuk diri yang berbeda-beda.

    Tetapi yang penting adalah memahami diri, dan saya rasa Anda dan saya meyakini hal itu. Jika boleh saya tambahkan, marilah kita bersungguh-sungguh dalam hal ini, oleh karena saya merasa, jika Anda dan saya sebagai individu—bukan sebagai kelompok dari kelas tertentu, masyarakat tertentu, wilayah iklim tertentu—dapat memahami ini dan bertindak terhadapnya, maka saya rasa akan ada revolusi yang sesunguhnya. Pada saat itu menjadi universal dan terorganisasikan dengan lebih baik, maka diri berlindung ke dalamnya; sedangkan, jika Anda dan saya sebagai individu dapat mencinta, dapat menerapkan ini secara aktual dalam kehidupan sehari-hari, maka revolusi yang begitu penting akan terjadi. ...

    Tahukah Anda, apa yang saya maksud dengan diri?

    Yang saya maksud dengan itu adalah gagasan, ingatan, kesimpulan, pengalaman, berbagai niat yang dapat disebut atau tidak, daya upaya sadar untuk menjadi sesuatu atau tidak menjadi sesuatu, timbunan ingatan di bawah-sadar, sifat rasial, kelompok, individu, marga, dan semuanya, entah itu diproyeksikan keluar dalam tindakan, entah diproyeksikan secara spiritual sebagai kebajikan; perjuangan mengejar semua itu adalah diri.

    Di dalamnya termasuk persaingan, keinginan menjadi sesuatu. Seluruh proses itu adalah diri; dan kita tahu secara aktual—ketika kita menghadapinya—bahwa itu jahat. Saya sengaja menggunakan kata ‘jahat’, oleh karena diri itu memecah-belah; diri itu menutup-diri; kegiatannya, betapa pun mulia, terpisah dan terisolasi. Kita tahu semua itu. Kita juga tahu bahwa adalah luar biasa saat-saat ketika diri itu tidak ada, yang di situ tidak terdapat rasa berupaya, berjuang, dan yang terjadi apabila ada cinta.

    Proses Menjadi
    7 Februari

    Bila Ada Cinta, Diri Tidak Ada

    Realitas, kebenaran bukan untuk dikenali. Agar kebenaran bisa muncul, kepercayaan, pengetahuan, pengalaman, kebajikan, pengejaran kebajikan—yang berbeda dari keadaan bajik— semua ini harus pergi.

    Orang bajik yang dengan sadar mengejar kebajikan tidak akan pernah menemukan realitas. Ia mungkin orang yang sangat sopan; itu sama sekali lain dari orang yang memiliki kebenaran, dari orang yang paham. Bagi orang yang memiliki kebenaran, kebenaran telah muncul.

    Seorang yang bajik adalah orang yang lurus, dan orang yang lurus tidak pernah dapat memahami apa itu kebenaran; oleh karena kebajikan baginya adalah penyelubungan diri, penguatan diri; oleh karena ia mengejar kebajikan. Ketika ia berkata, “Saya harus bebas dari keserakahan,” maka keadaan yang di situ ia tanpa-keserakahan dan yang dialaminya akan memperkuat diri. Itu sebabnya mengapa penting sekali untuk menjadi miskin, bukan hanya miskin dalam hal-hal duniawi, melainkan juga miskin dalam kepercayaan dan dalam pengetahuan.

    Orang yang kaya dengan kekayaan duniawi, atau orang yang kaya dengan pengetahuan dan kepercayaan, tidak pernah akan tahu apa-apa kecuali kegelapan, dan akan menjadi pusat segala kerusakan dan kesengsaraan.

    Tetapi jika Anda dan saya, sebagai individu, dapat melihat seluruh sepak terjang diri ini, maka kita akan tahu apa itu cinta.

    Percayalah, itu satu-satunya reformasi yang mampu mengubah dunia. Cinta bukanlah diri. Diri tidak dapat mengenal cinta. Anda berkata, “Saya mencinta,” tetapi, ketika berkata itu, ketika mengalami itu, cinta itu tidak ada. Tetapi bila Anda tahu cinta, diri tidak ada. Bila ada cinta, diri tidak ada.


    MUTIARA KEHIDUPAN Meditasi Harian Bersama Krishnamurti oleh: J. Krishnamurti Yayasan Krishnamurti Indonesia Jakarta Diterjemahkan dari: THE BOOK OF LIFE, Daily Meditations with Krishnamurti. © 1995 oleh Krishnamurti Foundation of America ke dalam bahasa Indonesia oleh: Dr. Hudoyo Hupudio, MPH © terjemahan (2005) pada: Yayasan Krishnamurti Indonesia, Jakarta
    Posted by Teguh De

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Masukkan komentar dan atau pertanyaan .......